Melanjutkan cerita yang
ini, saya akan membuat
post khusus tentang alur beasiswa LPDP.
Perlu diketahui bahwa saya mendaftar melalui jalur Afirmasi dengan
joint selection antara LPDP dan UNJ.
Jadi, memang ada beberapa tahap atau bahkan persyaratan yang berbeda dengan
jalur umum.
Pertama, sekitar akhir November saya mengumpulkan berkas ke
kantor Wakil Rektor bidang akademik. Pada tahap ini yang diseleksi adalah IPK
peserta. Setelah sampai di tahap selanjutnya yang saya tahu bahwa pada tahap
ini hanya peserta yang mempunyai IPK di atas 3,50 lah yang bisa lolos.
Peserta yang lolos seleksi berkas tahap pertama diundang
untuk menghadiri
talkshow pada
tanggal 8 Desember 2015.
Acara ini dihadiri
oleh perwakilan dari LPDP dan UNJ (rektor dan jajarannya, direktur pascasarjana,
serta kajur dan kaprodi). Pada tahap ini
dijelaskan alur seleksi dan segala hal yang berkaitan dengan pendaftaran. Kemudian
peserta diminta untuk membuat akun di
sini, mengisi data, dan mengunggah
berkas-berkas yang diminta.
Deadline
submit data ini tanggal 9 Desember 2015. Data yang diminta diantaranya
mengenai data diri, data orang tua, riwayat
pendidikan, riwayat pekerjaan, pengalaman organisasi, prestasi, nilai tes bahasa
asing, pengalaman seminar dan sejenisnya, karya ilmiah, penghargaan, dan
menulis essay. Ketentuan essay bisa dibaca di
sini. Selain itu juga ada berkas
yang harus diunggah, diantaranya pas photo, ijazah, transkrip nilai, surat
rekomendasi, surat pernyataan, surat tugas/izin belajar*, KTP, SKTM, slip gaji
orang tua*, slip gaji pendaftar*, rekening listrik 3 bulan terakhir, surat
keterangan bidik misi*, sertifikat*, LoA*, sertifikat bahasa asing, rencana
studi, surat berbadan sehat dan bebas narkoba, dan KK. Pada
joint selection ini saya merasakan
mendapat banyak kemudahan, misalnya surat berbadan sehat boleh didapat dari
klinik (tidak harus di rumah sakit pemerintah), sertifikat bahasa asing boleh
menggunakan sertifikat yang didapat dari UNJ (TOEP) dan skor minimal 400. Tahap
selanjutnya yaitu mengambil formulir pendaftaran di kampus dan membayar biaya pendaftaran
sebesar Rp500.000,00, kemudian mengembalikan formulir tersebut yang dilengkapi
dengan pas photo, fotokopi ijazah, dan transkrip nilai.
Deadline pengembalian formulir ini tanggal 11 desember 2015.
Setelah mengembaikan formulir pendaftaran, saatnya ujian
masuk ke perguruan tinggi yang dituju, UNJ. Ujian masuk yang dilaksanakan pada
tanggal 12 Desember 2015 berupa tes potensi akademik (TPA) dan tes bahasa
inggris. TPA berisi empat macam soal yang menilai kemampuan verbal, ruang,
matematika dan statistika, dan penalaran. Sedangkan tes bahasa inggris seperti
layaknya tes toefl hanya saja tidak ada listening.
Beberapa hari setelah tes tersebut dilakukan, tibalah saatnya pengumuman.
Peserta yang lolos tes ini (nilai bahasa inggris minimal 400), akan mendapat
LoA dan berhak untuk mengikuti seleksi substansi.
Seleksi substansi terdiri dari penulisan essay on the spot, wawancara, dan LGD (Leaderless Group Discussion). Pada tahap
ini, peserta diminta untuk membawa berkas asli dari berkas yang telah diunggah
pada tahap seleksi administrasi ditambah dengan SKCK. Selain itu juga diminta untuk membawa print
out formulir pendaftaran dan kartu peserta untuk verifikasi. Sehari sebelumnya,
peserta akan mendapat email yang berisi jadwal penulisan essay, verifikasi,
wawancara, dan LGD. Setiap orang mempunyai jadwal yang berbeda, namun tahap ini
berlangsung selama 2 hari yaitu pada 16-17 Desember 2015. Penulisan essay
dilakukan bersamaan di pagi hari. Setelah itu ada yang verifikasi, ada juga
yang mengikuti LGD. Tahap verifikasi adalah syarat agar bisa wawancara, ini
bersifat individu. LGD dilakukan berkelompok, peserta yang LGD tidak harus
verifikasi terlebih dahulu. Kebetulan saat itu jadwal saya adalah penulisan
essay – verifikasi – wawancara – LGD yang selesai dalam satu hari. Saya akui tahap
ini memang tahap yang paling menakutkan bagi saya. Tahap di mana saya harus
menyadarkan diri saya bahwa ‘jalan’ yang sedang saya tempuh bukan untuk
main-main karena akan menentukan masa depan saya. Saya harus mempersiapkannya
semaksimal mungkin. Pada tahap inilah saya menginginkan untuk menceritakan
perjuangan saya jika lulus nanti. Berikut saya uraikan tahapan seleksi
substansi.
- Penulisan essay on the spot
Pada tahap ini, seluruh peserta yang lolos
tahap sebelumnya berkumpul di sebuah ruangan. Masing-masing peserta diberi dua
lembar kertas. Satu kertas berisi petunjuk dan masalah yang hendak dijadikan
bahan penulisan essay, sedangkan kertas lain digunakan untuk menuliskan essay. Peserta
bebas memilih satu dari dua masalah yang diberikan. Setiap kertas yang
diberikan tidak selalu sama, tergantung pada kode yang ada pada bagian atas
kertas. Saya mendapat kertas dengan kode K dan memilih membuat essay tentang
produksi rokok.
Pada tahap ini, peserta diminta untuk meunjukkan
berkas asli dari berkas yang yang telah
diunggah sebelumnya. Dilengkapi dengan SKCK, formulis pendaftaran dan lembar kontrol
verifikasi. Petugas akan mengecek satu per satu berkas yang dibawa oleh
peserta. Jika lolos, peserta akan diberikan tanda tangan dan cap pada bagian
bawah lembar kontrol. Selanjutnya, peserta boleh wawancara setelah dipanggil
oleh petugas lain.
Tahap yang mendebarkan karena seorang
peserta akan berhadapan dengan tiga orang pewawancara yang salah satunya adalah psikolog. Setiap peserta mendapat
pertanyaan yang berbeda. Wawancara ini direkam dari awal hingga akhir, jadi selalu
siapkan jawaban terbaik. Jujur, tidak berbelit-belit, dan mudah dimengerti. Setiap
jawaban memungkinkan untuk menimbulkan pertanyaan lain.
- LGD (Leaderless
Group Discussion)
Tahap ini lebih mendebarkan 100x lipat dari
tahap wawancara. Pada tahap ini setiap kelompok yang terdiri dari 6 hingga 9
orang akan diberikan sebuah artikel yang berisi sebuah permasalahan dan setiap
peserta diminta untuk mengungkapkan pendapatnya pada saat diskusi. Tidak ada
moderator maupun notulen selama diskusi berlangsung. Saat itu, kelompok saya
terdiri dari 7 orang dan mendapat kasus tentang Freeport. Jujur saja saya tidak
menguasai kasus ini. Saya sempat gugup karena ketakutan namun segera
menyadarkan diri saya untuk memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan. Saya
kuatkan diri saya dan mencoba menyampaikan pendapat saya untuk yang kedua
kalinya. Saya harap ini lebih baik dari yang sebelumnya. Selama diskusi
berlangsung, ada seorang psikolog yang mengamati kami.
Setelah melewati tahapan tersebut, peserta harus menunggu hampir
2 minggu untuk mendapatkan hasillnya. Akhirnya pada tanggal 31 Desember 2015,
saya mendapat email yang menyatakan saya
lulus. Selanjutnya saya sedang menunggu Persiapan keberangkatan (PK).
Kuliah saya insya Allah akan dimulai sekitar bulan Agustus-September 2016.
Doakan semoga saya bisa melewati tahap selanjutnya, lancar kuliahnya hingga
bisa wisuda tepa waktu, dan ilmu yang saya dapatkan bisa bermanfaat untuk
banyak orang. Satu lagi, saya rajin ngeblog hehe.
Buat kalian yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa ini,
terus semangat! Jangan cepat merasa lelah! Jangan mudah putus asa! Optimislah
pada kemampuan yang kalian miliki.
Perjuangan tak pernah mudah, namun hasilnya begitu indah.
* tidak wajib/conditional