Kamis, 04 Februari 2016

Teman Baru

Kepada: perempuan dari PK-4

Hai, ka! Izinkan aku memanggilmu kaka, ya? Bukan untuk menuakanmu, hanya untuk lebih menghormatimu.

Hai, ka! Apa kabar hari ini? Masih di Jakarta atau sudah kembali ke Makasar? Apa pendapat kaka tentang Jakarta? Kuharap tidak hanya macet yang mengesankan bagi kaka.

Hai, ka! Kapan kaka kembali lagi ke Jakarta? Berkabarlah. Aku senang bertemu dengan kaka. Kaka sosok yang sangat ramah, tidak memilih teman berdasarkan golongan, dan rendah hati. Walau kaka lulusan Jerman, kaka tetap membuka diri padaku, tidak seperti anak-anak lulusan UK yang kemarin kita temui. Mereka seakan tak percaya ketika mendengar aku akan melanjutkan kuliah di Jakarta. Raut wajah mereka seketika berubah. Memang apa salahnya melanjutkan kuliah di dalam negeri? Berbeda reaksi dengan kaka. Kaka justru memberikan aku semangat. Menyarankan aku untuk mencari program study exchange agar aku bisa merasakan pendidikan di luar negeri.

Ka, terima kasih untuk satu hari kemarin. Terima kasih mau berteman denganku. Terima kasih karena mau menemaniku menemui Tasya Kamila di backstage. Terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa lain waktu.

Salam,

Perempuan dari PK-61

Rabu, 03 Februari 2016

Kepada: (Yang Mengaku Sebagai) Teman

Hey, kamu! Apa kabar? Masih betah berpura-pura? Nyamankah berteman dengan kebohongan?

Hey, kamu! Tahukah kamu? Pernah ku lihat sorotan iri dari bola matamu. Sungguh aku tak pernah sekalipun berkeinginan membuatmu iri. Aku hanya berusaha mendapatkan apa yamg pantas aku dapatkan. Aku tak pernah mengerti, bagian mana yang membuatmu selalu kesal padaku. Jika bahagiaku menjadi ancaman untukmu, sesungguhnya egomu lah yang salah. Silahkan berperang dengan egomu sendiri, namun jangan jadikan aku seolah akulah penyebab ketidakbahagianmu. Dan hey, jangan menyebar fitnah kepada orang sekitar. Sungguh, aku hanya bisa menertawakan sikapmu. Kau tahu? Mungkin hal itu yang aku jadikan motivasi agar aku berjuang lebih dari sebelumnya. Bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat dari mu. Hanya saja aku ingin tahu, bisakah aku menjadi lebih (baik) dari diriku yang pernah kau remehkan?

Terima kasih, (yang mengaku sebagai) teman.

Salam,

Absen 20

Senin, 01 Februari 2016

Teman Seperjuangan

Dear @oktavianas,
Mungkin sudah terlalu banyak suratku untukmu, atau lebih tepatnya terlalu banyak isi blogku mengenai dirimu. Aku tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan karena memberikan aku teman sepertimu.
Kau memang pelupa, tapi tak melupakan hari besarku. Kau mungkin cuek, tapi kau tahu diriku. Kau mungkin bukan teman bicara yang baik, tapi kau pendengar yang baik. Kau mungkin bukan teman terbaik, tapi kau sahabat termenyenangkan.
Selama 3,5 tahun kita bersama dalam sebuah kelas. Setelahnya kita masih rajin menyapa dan berjumpa. Bukan hal mudah memang apalagi setelah kepindahanmu ke luar kota. Tapi aku tahu, kau, orang yang akan memberikan waktu berharganya hanya untuk bertemu temannya. Walau hanya untuk haha-hihi sebentar, kau tetap menyempatkannya.
Aku tahu, akupun bukan teman terbaik untukmu. Namun percayalah, aku akan selalu menjadi aku yang kau kenal. Aku memang tak sempurna, namun kita selalu berusaha untuk membuat momen yang sempurna. Ingat janji kita berenam? Tetap akan bertemu walau suatu hari nanti masing-masing dari kita dorong stroller.
Hey, dalam beberapa bulan lagi kita akan berada di kelas yang sama. Ku harap kita dapat bekerja sama. Semoga bisa lulus lebih cepat lagi.

Salam,

Teman seperjuangan

Dear: B

Dear B,

Beberapa hari yang lalu sempat ada pemberitahuan di layar hp ku. Pemberitahuan itu berbunyi “Do you know B (your name)?” Tiba-tiba aku ingin berteriak, “Yes, I know hiiiiiiim.” Tapi tak ku lakukan karena aku sedang dalam bis umum. Entah mengapa namamu mendadak muncul di salah satu akun media sosialku. Padahal sebelumnya aku tak pernah mencari atau menemukanmu di sana. Seketika, rinduku bertambah. Rindu sapaanmu, rindu tawamu, rindu semua tentangmu.

Hey, you!

Apa kabarmu? Bagaimana keadaanmu? Bagaimana keluargamu? Bagaimana pekerjaanmu sekarang? Ah banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu. Sudah terlalu lama raga kita tak bertemu. Sudah terlalu lama rindu ini menunggu tuannya.
Oh ya, saat itu aku membuka akunmu. Melihat little L yang sangat cantik. Senyumnya sungguh manis. Tidak seperti kamu. Jika suatu hari kita bertemu lagi, bolehkan aku menyapanya? Semoga boleh. Ups mungkin lebih tepatnya semoga kita bisa bertemu lagi.

Salam,

Yang (masih) merindukanmu