“Siapa yang mau masuk SMA N 1 Cilacap” ucap guru Bahasa
Inggris pada saat sesi pendalaman materi untuk persiapan UN SMP, Mr. Moko.
...
“Kok Maya ga ngacung?”
“Ngapain? Orang Maya ga punya uang buat kuliah, ngapain
masuk SMA. Mending SMK biar ga usah kuliah, langsung kerja.”
…
Sejak
saat itu, proyeksi belajarku menuju ke sana. Aku ingin masuk SMK N 1 Cilacap,
SMK terfavorit yang letaknya di kota besar. Namun aku tetap tidak melupakan
prestasiku. Aku tetapberusaha mendapatkan nilai bagus. Sayangnya aku ga bisa
masuk SMK karena tinggi badan kurang 2 cm :’( dan akhirnya masuklah ke SMA (cerita
selengkapnya baca
di sini). Hingga akhirnya aku bisa kuliah dengan bantuan
beasiswa Bidik Misi dari
Dikti. It’s really helpful for me.
Memutuskan
untuk memilih jurusan matematika bukan hal yang sulit buatku. Aku memilihnya
hanya karena aku sangat menyukai matematika sejak kecil. Tidak ada alasan lain,
maupun keinginan agar nantinya dapat bekerja di tempat yang bagus dan besar
gajinya. Ya…pikiranku sedangkal itu. Pertama masuk kuliah, aku tidak tahu apa
yang akan kupelajari. Melihat daftar nama mata kuliah di KRS pun terasa asing. “Kalkulus
Diferensial apa? Aljabar Linear yang kaya gimana? Perlu bawa buku apa?” Hampir stress
sampe-sampe mikir “am I the only one who don’t know about this?”
Belajar!
Ya hanya itu yang bisa dilakukan untuk menaklukan mata kuliah super ajaib
dengan dosen-dosen yang maha kaya pengetahuannya. Awal kuliah langsung mikir harus lulus 3,5 tahun. Kenapa? Biar
bisa bikin bangga. Namun lama-kelamaan keinginan itu mulai memudar.”Gimana bisa
aku yang IP semester pertamanya nggak dapet 4 kok mau lulus 3,5 tahun? Kakak
kelas aja paling cepet lulus 4 tahun, bahkan yang IPnya 4 terus.” Semester
pertama, yang orang bilang semester paling mudah untuk mendapatkan IP 4, aku
tidak bisa. Kesel? Iya. Nggg…okay. Akhirnya nyerah. Yaudah jalanin aja apa yang
ada.
Day after
day, month after month, and semester after semester. Alhamdulillah karena IPK
selalu di atas 3 jadi tiap semester bisa ambil maksimal 24 sks. Ketika mulai
memasukin semester 6, mata kuliah yang bisa diambil hanya sedikit. Sisa sks banyak,
sayang banget. Akhirnya sama temen-temen diskusi buat ngambil mata kuliah SPS.
SPS (Seminar Pra Skripsi) ini mata kuliah yang bobotnya 2 sks tapi bebannya 140
sks. Sesuai dengan namanya, pada mata
kuliah ini kita diminta untuk membuat proposal penlitian untuk skripsi kita
dari bab 1 hingga bab 3. Proposal inilah yang jadi cikal bakal karya pertama
kita saat akan lulus nanti. Setelah diskusi dan meminta izin kepada ‘atasan’ di
jurusan Matematika, akhirnya diperbolehkan. Saat itu terdapat 8 mahasiswi yang
mengambil SPS. Iya mahasiswi.
Nah
goal dari mata kuliah ini adalah seminar. Yang ga bisa seminar di semester itu
maka dapat nilai E (tidak lulus) yang artinya semester depan harus ngambil mata
kuliah ini lagi di KRS dan melanjutkan proposal yang sedang dibuat. And you
know? Kita berdelapan dapat E haha. Kalo kata orang “belum jadi mahasiswa kalau
belum pernah dapat E” owkay. Semester 7 ngambil mata kuliah ini lagi. Nah karena
aku udah ga ada mata kuliah lain (teori) yang harus diambil, jadi semester itu
juga ngambil PKM (praktik mengajar di sekolah)
dan skripsi. Nah dari sini mulai mikir lagi buat lulus 3,5 tahun. Alhamdulillah
awal semester 7 bisa seminar bareng Oktaviana. Setelah seminar, apa yang kita
lakukan? Penelitian! Yap. Kita harus penelitian di sekolah. Kebetulan karena
kita lagi praktik mengajar, sekalianlah penelitian di sekolah itu. Ada kendala
sih pasti ya, tergantung bagaimana kita menghadapi dan membuatnya agar tidak
meghambat penelitian. Nah setelah penelitian apa lagi?
Waini!
Ini! Setelah penelitian, pas banget momennya lagi ujian ngajar di sekolah, dan
ada beberapa kesibukan lainnya. Skripsipun terabaikan beberapa bulan. Malas
juga menjadi salah satu alasan =D
(jangan ditiru!). Karena libur semester semakin dekat, akhirnya kita pun
sibuk. Tiap hari ke kampus nyari dosen. Kalo ga boleh bimbingan ya pulang. Besoknya
gitu lagi. Sampai akhirnya baru bisa bimbingan sama Dosen Pembimbing di hari
terakhir tahun 2014. Bimbingan -> revisi -> bimbingan -> revisi dst. Pernah
berhenti? Iya. Pas dikasih PR dang a tau jawabannya langsung bingung, diem,
berhenti. Tapi kan kalau ga dilanjut nanti ga selesai-selesai dong? Akhirnya dihadapi.
Alhamdulillah di minggu kedua Januari sudah mendapat izin dan persetujuan untuk
sidng skripsi. Bahagia J
Hari
itu juga langsung daftar sidang. Nunggu seminggu lebih dan akhirnya jadwal sidang
keluar. Aku dijadwalkan untuk sidang pada tanggal 23 januari 2015 pukul 08.00
dan seruangan bareng Okta. Deg-degan? Yaiyalah. Udah kaya mau dilamar haha.
Selesai siding sekitar jam 12an, belum yudisium karena kepotong sholat jumat.
Setelah sholat dan makan siang, akhirnya yudisium. Yudisium ini pengumuman
lulus atau tidaknya, tapi sebelum pengumuman ada beberapa pesan dan nasihat
dari dosen. Oh ya, pas momen mendebarkan ini juga ditaku-takuti kalau ada yang
tidak lulus karena ga bisa jawab pertanyaan penguji. Dag-dig-dug-dhuaaaaar!
Lupa
tepatnya jam berapa, karena ga make jam dang a megang hp juga. Nunggu pengumuman,
duduk di hadapan para dosen sambil komat-kamit berdoa semoga lulus. Akhirnya
pas pengumuman, kita berenam (saat itu ada 6 orang yang siding dan dibagi 2
ruangan) dinyatakan lulus. Seneng banget! Yeay! Terus cium tangan sama dosen, langsung
keluar ruangan. Yang pertama aku lakukan langsung meluk
Indah dan nangis
hahaha. Abis itu foto-foto deh.
Akhirnya,
momen kebahagiaan itu datang. Momen yang mendebarkan sekaligus membahagiakan. Salah
satu momen terindah dalam hidupku. Di balik ini semua, kuyakin ada doa orang
tua, keluarga, dan sahabat. Dukungan mereka sangat berarti. Akhirnya…
Anak orang ga punya
ini bisa jadi sarjana.
Anak kampong ini bisa
lulus 3,5 tahun.
 |
| Maya Oktaviani, S.Pd |
Aku bangga pada diriku sendiri. Aku juga bangga karena bisa
membuat bangga orang lain. Terima kasih kalian yang ada di balik layar ini. Terima
kasih juga untuk yang sudah hadir dan memberikan kenyamanan pada hati yang berdebar
kala itu. Terima kasih.
 |
| Thank you bunga dan bandonya :* |
 |
| Ema, Nurul, Tika, Okta, Maya, Sari, Indah, Nia, Elsia |
Terima kasih telah menemani perjalananku sejak SPS. Terima
kasih telah berbagi informasi karena kedua dosen pembimbing kita sama. Terima kasih
untuk saran dan masukannya selama ini. Terima kasih untuk semua hal yang tak
mampu kusebutkan.
Teruntuk
Okta:
Terima kasih telah menemani perjalananku sejak awal kuliah,
yang kuyakini ini bukan hanya kebetulan. Takdir yang mempertemukan kita sejak
kita lahir ke dunia di tahun, bulan, tanggal, hari, atau bahkan jam yang sama namun
dari rahim orang yang berbeda. Takdir yang menuntun kita walau kita pernah
memilih untuk mengambil mata kuliah yang berbeda namun akhirnya kita selalu
mengambil mata kuliah yang sama dan di kelas yang sama (kecuali kelas Agama). Takdir yang membuat kita mempunya dosen
pembimbing skripsi yang sama, seminar di hari yang sama dengan penguji yang
sama percis, hingga siding di ruangan yang sama dengan penguji yang sama percis
pula. Bahkan dosen pembimbing kita yang baru mengetahuinya sampai terheran-heran.
Okta…terima kasih untuk semuanya. Semua saran dan masukan untuk skripsi maupun
untuk kehidupan lainnya. Terima kasih untuk kebersamaan 3,5 tahun. Terima kasih
untuk ‘kegilaan’ yang tiada habisnya. Yang pernah kuyakini bahwa kita berteman
karena mempunyai selera yang sama. Terima kasih Okta. Tak pula juga terima
kasih untuk kata-kata indahnya pagi ini.
Maicihhh.. if you know
may, how thankful am I to have you for these past 3 years and half.. our fate
start from the very beginning when we just born, till every detail of our uni
life, and now fate also did its work when we graduated from uni..
Keep together (cos we
have to work for our revisions) :p, and I hope our fate don’t end its work
here, but keep working till we get married, having child, get older, everything
in our life~
Once again thank you
for everything..
 |
| Like twins, right? |