Rabu, 18 Februari 2015

Tuan yang Seprofesi denganku

Hai tuan berkemeja lengan panjang yang digulung dua kali, masih sibukkah kamu dengan aktivitasmu yang sejak dulu tak berubah? Ah pasti masih. Kau memang pekerja keras. Kau kerja dari siang sampai malam saat weekdays, dan dari pagi sampai sore di hari Sabtu. Semoga kau sehat selalu walau jam tidurmu tak lebih dari 5 jam setiap malamnya.
Hai tuan, aku ingin meminta maaf. Maaf karena aku sakit sehingga kau harus menyelesaikan pekerjaanku. Maaf karena aku menitipkan anak-anak (murid) ku padamu. Karena mereka hanya mau belajar denganku atau denganmu. Maaf karena aku harus pulang kampung, menemui keluargaku yang sudah lama tak bertemu. Sehingga aku izin untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari.
Hai tuan, aku berterimakasih sekali pada Tuhan. Tuhan baik sekali ya pada kita? Tuhan telah mempertemukan kita. Profesi kita yang sama memudahkan kita dalam beberapa hal, misalnya kita saling menggantikan satu sama lain jika ada yang izin kerja. Juga saat aku bercerita kejadian seharian dan meminta saranmu, kau benar-benar bisa memposisikan dirimu seperti aku. Terlebih kita lulus dari institusi yang sama. Kau tahu betul apa yang kualami selama kuliah karena pernah kau rasakan dulu. Kau juga sering menasihatiku agar aku tak salah mengambil keputusan. Seperti beberapa bulan lalu saat aku hampir stress mengerjakan skripsiku yang tak kunjung mendapat acc dari salah satu dosen pembimbing, dan kubilang aku lebih menyukai dosen pembimbing yang satunya saat itu. Kau bilang aku tak boleh begitu. Walau bagaimanapun, mereka berdua tetap dosen pembimbingku, dan se-tidak-suka apapun aku dengan salah satunya, aku harus tetap menjalani kenyataan bahwa aku akan terikat dengan mereka hingga skripsiku selesai. Mau tidak mau aku tetap harus menghadapi mereka. Dari situ aku mulai sadar bahwa aku tak boleh membeda-bedakan mereka jika aku pun tak mau dibeda-bedakan.
Kau tahu betapa bahagianya aku punya kamu? Walaupun kau tak se-perhatian laki-laki di luar sana, tapi aku tahu sebenarnya kau mampu. Intesitas pertemuan kita yang jarang tak lain karena kesibukkan kita masing-masing. Aku hanya kerja di tempatmu beberapa hari saja, sisanya aku kerja di Cibubur. Jauh sekali bukan dari tempat kerjamu di Kelapa Gading? Jadwal kerjaku pun tak jauh berbeda denganmu, bahkan aku kerja dari pagi hingga malam di hari Minggu. Kau tahu aku gadis mandiri kan? Sejak kuliah aku berusaha untuk membiayai hidupku sendiri, karena ibuku tak bekerja, dan kakak perempuanku yang bekerja untuk membiayai hidup keluarganya juga ibu dan neneknya.  Aku tak tega jika harus membebaninya dengan biaya hidupku. Untungnya aku mendapat beasiswa untuk kuliah, kau bangga kan? Kau pernah mengatakannya padaku. Aku suka cara kita saling memuji. Aku memujimu karena diusiamu yang masih muda kau sudah mendapat tida huruf dibelakang namamu dan akan segera mendapat empat huruf lagi di belakangnya. Namamu semakin panjang nanti. Kau juga sudah menjadi owner sebuah bimbingan belajar. Hai kau pemiliknya! Kau hebat. Dengan itu kau bisa membiayai hidupmu juga adikmu. Kau memujiku karena aku mau bekerja keras di perantauan. Kau pernah memujiku karena diusiaku yang ke-21 aku sudah mendapat gelar. Bahkan kau selalu membandingkan perolehan IP kita dan milikku selalu lebih besar. Pernah suatu hari aku mengeluh karena aku tidak bisa sidang/seminar pada mata kuliah Seminar Pra Skripsi (Proposal Skripsi) dan aku mendapatkan nilai E.
“IPku jelek karena SPS dapet E”
“Emang dapet berapa?”
“3.50”
“Segitu kamu bilang jelek? Kamu dapet E aja masih bisa gede IPnya, gimana temen-temen kamu ga kesel sama kamu?”
Aku hanya tertawa kecil. Kita sering memuji dengan cara kita sendiri. Untukku itu tak berlebihan. Aku bahagia. 
Hai tuan yang sering ceroboh. Kau pernah berangkat kerja menggunakan sandal yang berbeda kan? Kaki kananmu menggunakan sandal selop sedangkan kaki kirimu menggunakan sandal jepit. Kau tidak menyadarinya saat berangkat. Kau baru menyadarinya ketika sudah di jalan, namun kau tak bisa putar balik karena sudah telat. Kau ditertawakan oleh murid-muridmu tapi kau bisa tetap cuek menanggapinya. Akupun tak menyadarinya saat kita bertemu malam itu, hingga kau sendiri yang menyuruhku melihat kakimu. Lucu sekali :”) 
Hai tuan, kusudahi dulu suratku. Sering-seringlah istirahat. Eh untuk hal ini kau tak perlu diberitahu ya? Aku sering melihatmu tidur di kantor. Bahkan aku pernah melihatmu membawa bantal dari rumahmu. Baiklah. Kau pasti tahu yang terbaik untukmu.

Salam,

Gadis kecil

1 komentar: