Kepada:
laki-lakiku
Hai...
Apa
kabarmu? Bolehkah aku bertanya? Satu saja. Boleh ya?
Mengapa
dulu kau lebih memilih pergi dengannya dibanding menemani hari-hariku?
Ku
harap kau punya alasan yang mampu ku maklumi dan ku maafkan, suatu hari nanti.
Semoga.
Laki-lakiku...
Aku
tahu, kau pernah menyesal akan hal itu. Aku tahu, kau tak tahu kalau aku akan
tumbuh secantik ini. Ah mungkin kalau kau tahu, kau tak akan salah mengambil
keputusan. Mungkin sekarang kita akan bahagia hidup bersama. Hidup yang hanya
dapat ku bayangkan, sekarang.
Laki-lakiku...
Kau
tahu, aku rindu padamu. Lucu ya? Aku rindu pada orang yang belum pernah aku
temui. Aku rindu pada orang yang belum pernah ku lihat wajahnya. Aku rindu pada
orang yang belum pernah ku rasakan hangat peluknya. Ah aku rindu kau,
laki-lakiku.
Laki-lakiku...
Maafkan
aku. Aku tak malu pernah punya kamu. Aku hanya iri, pada mereka, perempuan yang
diantar-jemput oleh lelakinya saat sekolah. Aku iri, pada mereka, perempuan
yang dibelai mesra rambutnya serta dikecup keningnya saat berpamitan. Aku
bahkan tak pernah bisa membayangkan hal itu.
Laki-lakiku...
Maafkan
aku. Maaf aku baru akan memulai mencarimu. Maaf aku baru mempunyai keberanian
untuk menerima kenyataan, bahwa aku pernah kau tolak. Maaf untuk segala pikiran
buruk tentangmu. Maaf untuk segala sumpah serapah yang pernah ku tujukan
padamu. Maaf aku telat mencintaimu. Maaf, sayang.
Laki-lakiku...
Semoga
masih ada kesempatan untuk kita bertemu, walau hanya sekali. Semoga Tuhan mau
mempertemukan kita, kelak. Saat kita memang telah siap. Saat lingkungan
menerima keadaan kita. Saat kita merasa semua akan baik-baik saja.
Laki-lakiku...
Simpan
rindumu untukku ya. Rindu yang kau pendam selama lebih dari 21 tahun. Rindu
yang kau simpan rapat untuk mahkota kesayanganmu, anakmu. Luapkan nanti saat
kita bertemu ya, Ayah.
Salam
sayang,
Anak
gadis yang belum pernah kau peluk
Sedikit menghilangkan penat dengan tumpukan aksara yang tersusun rapi dalam suratmu :)
BalasHapusHai, makasih sudah mau membaca. Aku pun masih belajar :D
Hapus