Hai tuan
berkemeja lengan panjang yang digulung dua kali, masih sibukkah kamu dengan
aktivitasmu yang sejak dulu tak berubah? Ah pasti masih. Kau memang pekerja
keras. Kau kerja dari siang sampai malam saat weekdays, dan dari pagi sampai sore di hari Sabtu. Semoga kau sehat
selalu walau jam tidurmu tak lebih dari 5 jam setiap malamnya.
Hai tuan, aku
ingin meminta maaf. Maaf karena aku sakit sehingga kau harus menyelesaikan
pekerjaanku. Maaf karena aku menitipkan anak-anak (murid) ku padamu. Karena mereka
hanya mau belajar denganku atau denganmu. Maaf karena aku harus pulang kampung,
menemui keluargaku yang sudah lama tak bertemu. Sehingga aku izin untuk tidak
masuk kerja selama beberapa hari.
Hai tuan, aku
berterimakasih sekali pada Tuhan. Tuhan baik sekali ya pada kita? Tuhan telah mempertemukan
kita. Profesi kita yang sama memudahkan kita dalam beberapa hal, misalnya kita
saling menggantikan satu sama lain jika ada yang izin kerja. Juga saat aku
bercerita kejadian seharian dan meminta saranmu, kau benar-benar bisa
memposisikan dirimu seperti aku. Terlebih kita lulus dari institusi yang sama. Kau
tahu betul apa yang kualami selama kuliah karena pernah kau rasakan dulu. Kau juga
sering menasihatiku agar aku tak salah mengambil keputusan. Seperti beberapa
bulan lalu saat aku hampir stress mengerjakan skripsiku yang tak kunjung
mendapat acc dari salah satu dosen pembimbing, dan kubilang aku lebih menyukai
dosen pembimbing yang satunya saat itu. Kau bilang aku tak boleh begitu. Walau bagaimanapun,
mereka berdua tetap dosen pembimbingku, dan se-tidak-suka apapun aku dengan
salah satunya, aku harus tetap menjalani kenyataan bahwa aku akan terikat
dengan mereka hingga skripsiku selesai. Mau tidak mau aku tetap harus
menghadapi mereka. Dari situ aku mulai sadar bahwa aku tak boleh membeda-bedakan
mereka jika aku pun tak mau dibeda-bedakan.
Kau tahu
betapa bahagianya aku punya kamu? Walaupun kau tak se-perhatian laki-laki di
luar sana, tapi aku tahu sebenarnya kau mampu. Intesitas pertemuan kita yang
jarang tak lain karena kesibukkan kita masing-masing. Aku hanya kerja di
tempatmu beberapa hari saja, sisanya aku kerja di Cibubur. Jauh sekali bukan
dari tempat kerjamu di Kelapa Gading? Jadwal kerjaku pun tak jauh berbeda
denganmu, bahkan aku kerja dari pagi hingga malam di hari Minggu. Kau tahu aku
gadis mandiri kan? Sejak kuliah aku berusaha untuk membiayai hidupku sendiri,
karena ibuku tak bekerja, dan kakak perempuanku yang bekerja untuk membiayai
hidup keluarganya juga ibu dan neneknya. Aku tak tega jika harus membebaninya dengan
biaya hidupku. Untungnya aku mendapat beasiswa untuk kuliah, kau bangga kan? Kau
pernah mengatakannya padaku. Aku suka cara kita saling memuji. Aku memujimu
karena diusiamu yang masih muda kau sudah mendapat tida huruf dibelakang namamu
dan akan segera mendapat empat huruf lagi di belakangnya. Namamu semakin
panjang nanti. Kau juga sudah menjadi owner
sebuah bimbingan belajar. Hai kau pemiliknya! Kau hebat. Dengan itu kau
bisa membiayai hidupmu juga adikmu. Kau memujiku karena aku mau bekerja keras
di perantauan. Kau pernah memujiku karena diusiaku yang ke-21 aku sudah
mendapat gelar. Bahkan kau selalu membandingkan perolehan IP kita dan milikku
selalu lebih besar. Pernah suatu hari aku mengeluh karena aku tidak bisa sidang/seminar
pada mata kuliah Seminar Pra Skripsi (Proposal Skripsi) dan aku mendapatkan nilai
E.
“IPku jelek karena SPS dapet E”
“Emang dapet berapa?”
“3.50”
“Segitu kamu bilang jelek? Kamu dapet E
aja masih bisa gede IPnya, gimana temen-temen kamu ga kesel sama kamu?”
Aku hanya tertawa kecil. Kita sering memuji dengan
cara kita sendiri. Untukku itu tak berlebihan. Aku bahagia.
Hai tuan yang sering ceroboh. Kau
pernah berangkat kerja menggunakan sandal yang berbeda kan? Kaki kananmu
menggunakan sandal selop sedangkan kaki kirimu menggunakan sandal jepit. Kau tidak
menyadarinya saat berangkat. Kau baru menyadarinya ketika sudah di jalan, namun
kau tak bisa putar balik karena sudah telat. Kau ditertawakan oleh
murid-muridmu tapi kau bisa tetap cuek menanggapinya. Akupun tak menyadarinya
saat kita bertemu malam itu, hingga kau sendiri yang menyuruhku melihat kakimu.
Lucu sekali :”)
Hai tuan, kusudahi dulu suratku.
Sering-seringlah istirahat. Eh untuk hal ini kau tak perlu diberitahu ya? Aku sering
melihatmu tidur di kantor. Bahkan aku pernah melihatmu membawa bantal dari
rumahmu. Baiklah. Kau pasti tahu yang terbaik untukmu.
Salam,
Gadis kecil
acik acikkk jatuh cinta itu aciikk
BalasHapussemangat yaaa